Pemerintah Catat Tren Positif Pariwisata 2025, Wisman dan Wisnus Tumbuh
- account_circle Sebalo Pos
- calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
- print Cetak

Kementerian Pariwisata mencatat kinerja positif sektor pariwisata nasional sepanjang 2025. Foto: Kemenpar RI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SebaloPos.com – Kementerian Pariwisata mencatat kinerja positif sektor pariwisata nasional sepanjang 2025, ditopang oleh lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara serta tingginya pergerakan wisatawan nusantara. Capaian ini dinilai menandai fase pemulihan sekaligus penguatan fondasi pariwisata berkelanjutan Indonesia.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana bersama Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyampaikan laporan tersebut dalam paparan kinerja bulanan kementerian. Dalam keterangan tertulis, Rabu, 14 Januari 2026, Widiyanti mengungkapkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara secara kumulatif pada Januari–November 2025 mencapai 13,98 juta kunjungan, tumbuh 10,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 12,66 juta kunjungan.
“Dari sisi pasar utama, kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia masih didominasi oleh Malaysia, Australia, Singapura, Tiongkok, dan Timor Leste,” kata Widiyanti. Kelima negara tersebut secara kumulatif menyumbang lebih dari 56 persen total kunjungan wisatawan mancanegara pada November 2025.
Menurut Widiyanti, dominasi pasar regional Asia-Pasifik mencerminkan kuatnya daya tarik Indonesia di kawasan tersebut. Namun, kondisi ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya penguatan konektivitas internasional, promosi yang lebih terarah, serta peningkatan kualitas layanan untuk memperluas pasar ke kawasan lain.
Dari sisi pintu masuk, kunjungan wisatawan mancanegara masih terkonsentrasi di lima bandara utama, yakni Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, Soekarno–Hatta Jakarta, Juanda Surabaya, Kualanamu Medan, dan Bandara Internasional Yogyakarta. Kelima bandara tersebut dinilai sebagai simpul strategis pariwisata internasional Indonesia.
“Pintu-pintu masuk utama ini akan terus diperkuat untuk menopang konektivitas dan kenyamanan wisatawan,” ujar Widiyanti.
Sementara itu, selisih antara jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan perjalanan wisatawan nusantara secara kumulatif meningkat dari 4,52 juta pada Januari–November 2024 menjadi 5,64 juta pada periode yang sama 2025. Kondisi ini dinilai memberi sinyal positif bagi penguatan neraca pariwisata dan peningkatan devisa nasional.
Di sisi lain, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menambahkan perjalanan wisatawan nusantara sepanjang 2025 juga menunjukkan pertumbuhan signifikan. Sepanjang Januari hingga November 2025, jumlah perjalanan wisatawan nusantara tercatat mencapai 1,09 miliar perjalanan, melampaui target tahunan sebesar 1,08 miliar.
“Capaian ini menegaskan peran strategis wisatawan nusantara sebagai penyangga utama pariwisata nasional, terutama di tengah dinamika global,” kata Ni Luh.
Meski demikian, ia menyoroti tantangan pemerataan destinasi. Lebih dari 61 persen perjalanan wisatawan nusantara masih terkonsentrasi di lima provinsi di Pulau Jawa, yakni Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan Banten. Untuk mengatasi hal tersebut, Kementerian Pariwisata terus mendorong diversifikasi destinasi melalui penguatan destinasi prioritas, destinasi regeneratif, serta pengembangan desa wisata di luar Jawa.
Peningkatan minat berwisata juga tercermin pada periode Natal dan Tahun Baru 2025–2026. Data sementara Kementerian Perhubungan mencatat pergerakan pelaku perjalanan di 10 Destinasi Pariwisata Prioritas dan tiga Destinasi Regeneratif mencapai 11,81 juta orang, tumbuh 10,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Mengantisipasi lonjakan tersebut, Kementerian Pariwisata menerbitkan berbagai kebijakan, mulai dari surat edaran kepada pemerintah daerah dan pelaku usaha pariwisata, modul CHSE dan kebencanaan, hingga koordinasi lintas kementerian guna memastikan keamanan dan kenyamanan wisatawan.
“Kami juga memastikan kebijakan insentif transportasi, khususnya tiket angkutan udara, benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ujar Ni Luh.
Selain itu, promosi paket wisata tematik Natal dan Tahun Baru diperkuat melalui kampanye #DiIndonesiaAja, pameran pariwisata nasional, serta kolaborasi lintas sektor melalui program BINA (Belanja di Indonesia Aja) Indonesia Great Sale 2025, yang mencatat nilai transaksi sekitar Rp31 triliun selama masa libur akhir tahun.
Widiyanti menegaskan pengembangan pariwisata nasional tidak hanya berorientasi pada momentum jangka pendek, melainkan diarahkan pada pembangunan pariwisata berkualitas dan bernilai tambah tinggi. Fokus pengembangan diarahkan pada segmen unggulan seperti gastronomi, wisata bahari, dan wellness tourism, termasuk menyasar pasar premium dan luxury.
Upaya tersebut diperkuat oleh prestasi internasional sepanjang 2025, ketika pariwisata Indonesia meraih 153 penghargaan global, termasuk pengakuan dari La Liste Prancis, Michelin Keys, dan Best Tourism Village UN Tourism. “Penghargaan ini menegaskan reputasi pariwisata Indonesia berada pada level tertinggi dalam satu dekade terakhir,” kata Widiyanti.
Dengan arah kebijakan yang jelas dan sinergi lintas sektor yang semakin solid, pemerintah optimistis pariwisata Indonesia akan terus menjadi kekuatan strategis pembangunan nasional sekaligus wajah Indonesia di panggung global. (*/)
- Penulis: Sebalo Pos

Saat ini belum ada komentar